Terbaru. Dapatkan segera dari penulis WA 012-2712906

Terbaru. Dapatkan segera dari penulis WA 012-2712906

Jumaat, Ogos 21, 2015

Pusara Masjid Lama - Catatan 15


MEREKA melompat masuk ke dalam perahu jalur itu.  Aki Sendeng sedang terbaring beralaskan beberapa kajang yang berlipat.  Tubuhnya diselimuti kain kemul yang sudah luntur warna birunya.  Orang tua itu menggeletar.
"Aki demam?" tegur Hj Don lalu menjamah dahi Aki Sendeng.  Hangat bagai berdiang di tungku.  "Memang demam teruk," katanya pada Aki Ajir.
"Kamu tunggu di sini, awak panggil orang kampong membantu," kata Aki Ajir lalu melompat keluar dari perahu.
Hj Don memandang sekeliling.  Ada periuk kecil dan Loyang bergantungan pada bumbung kajang perahu jalur itu.  Itulah yang digunakan orang tua itu memasak ketika berperahu dari Teluk Penyamun ke Kuala Kubu dan sebaliknya.  Ada tempayan gubang berisi air minum.  Sumpit mengkuang berisi beras.  Juga kain-kain sarung yang berlipat bergantung pada tali labrang perahu.
"Awak hendak mudik Teluk Penyamun bagaimana," keluh Aki Sendeng.  Anak bininya di sana, dia hanya berdagang ikan dan hasil laut ke mari.  Habis dagangan kembalilah ke Teluk Penyamun, meraih hasil laut dan kembali ke Kuala Kubu.  Begitulah bertahun-tahun.  Tidak pernah hinggap sakit pening.  Apa lagi demam ketulangan begini.
"Kita tunggu Aki Ajir, mana tahu boleh bawa berubat," getus Hj Don.
"Kalau awak pergi, kamu sempurnakanlah di mana awak pergi.  Usah diayak jenazah awak ke hulu hilir," pesan Aki Sendeng.
Hj Don memegang tangan Aki Sendeng lembut.  "Jangan Aki cakap begitu, kita ini milik Allah." 

Tiada ulasan: